Kaltim

Longsor di TPU Damanhuri Samarinda Gegerkan Warga : Jenazah Tersingkap Akibat Hujan Deras

Ragil Anggriani | 28 Mei 2025, 07:54 WIB
Longsor di TPU Damanhuri Samarinda Gegerkan Warga : Jenazah Tersingkap Akibat Hujan Deras

Samarinda, AkuratKaltim – Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda sejak subuh hingga sore hari pada Selasa, 27 Mei 2025, tidak hanya memicu banjir di berbagai wilayah kota, tetapi juga menyebabkan bencana longsor di kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damanhuri, yang terletak di Kecamatan Sungai Pinang. Kejadian ini sontak mengejutkan dan memprihatinkan masyarakat, terutama keluarga yang memiliki makam di lokasi tersebut.

Menurut keterangan warga sekitar, tanah di kawasan TPU yang labil dan dipenuhi air hujan mengakibatkan sejumlah makam ambrol. Bahkan, salah satu liang lahad dilaporkan terbuka, hingga jasad yang sudah dimakamkan terlihat menyembul keluar dari tanah. Gambar dan video kondisi lokasi pasca-kejadian pun dengan cepat beredar di media sosial, memicu keprihatinan luas.


Kondisi Mengkhawatirkan: Makam Terbuka dan Retakan Tanah yang Mengancam

Dalam dokumentasi yang beredar, terlihat sejumlah nisan terguling dan tanah yang terbelah, memperlihatkan kondisi makam yang rusak parah. Beberapa tanaman hias pun ikut terhempas, memperlihatkan betapa kuatnya dorongan tanah akibat curah hujan ekstrem yang turun selama lebih dari 10 jam nonstop.

“Kami terkejut ketika melihat makam keluarga sudah tergeser. Bahkan ada jenazah yang terlihat,” ujar Ridwan, salah satu warga yang keluarganya dimakamkan di TPU tersebut.

Warga dan petugas pemakaman berjibaku melakukan penanganan sementara dengan menutup kembali tanah menggunakan alat seadanya. Namun, mereka mengaku khawatir jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan.


Respon Pemerintah dan Imbauan Darurat

Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Sosial telah menurunkan tim untuk mengevaluasi dampak longsor dan mengidentifikasi makam yang terdampak. Selain itu, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) juga telah mengirimkan tim pemantauan ke lokasi untuk mencegah potensi longsor susulan.

Pihak kelurahan dan pengelola TPU pun mengimbau agar keluarga jenazah yang terdampak segera menghubungi pihak pengelola untuk melakukan pemulihan atau pemindahan makam jika diperlukan.

“Kami minta kepada warga yang memiliki makam keluarga di sini untuk memeriksa kondisinya. Jika makam rusak, segera koordinasi dengan pengelola agar bisa segera diperbaiki,” ujar Lurah Sungai Pinang dalam pernyataan tertulis.


Bencana Alam Menjadi Peringatan Penting

Insiden longsor di TPU ini kembali menjadi pengingat serius bahwa perubahan iklim dan curah hujan ekstrem membawa konsekuensi nyata di kawasan padat pemukiman maupun area sensitif seperti pemakaman. Perlu perhatian lebih dalam pengelolaan sistem drainase, terutama di kawasan rawan longsor dan banjir seperti Samarinda yang notabene kerap dilanda bencana serupa.

Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dalam memperkuat struktur tanah di area TPU serta membangun sistem pembuangan air yang lebih optimal.


Langkah Tanggap Darurat yang Bisa Dilakukan Masyarakat:

  1. Memantau lokasi makam keluarga di TPU Damanhuri dan TPU lainnya yang berada di wilayah rawan longsor.

  2. Melaporkan kondisi kerusakan kepada pengelola TPU atau pemerintah setempat agar mendapat penanganan segera.

  3. Menghindari area longsor yang masih labil hingga dipastikan aman oleh tim terkait.

  4. Mendukung upaya gotong royong untuk memperbaiki makam yang rusak serta menjaga kebersihan lingkungan TPU.


Fakta Singkat Kejadian:

  • Lokasi: Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damanhuri, Sungai Pinang, Samarinda

  • Tanggal Kejadian: 27 Mei 2025

  • Penyebab: Hujan deras dengan durasi lebih dari 10 jam

  • Dampak: Longsor, kerusakan sejumlah makam, jenazah tersingkap

  • Status: Dalam penanganan pemerintah dan pengelola TPU

Kejadian longsor di TPU Damanhuri adalah tragedi kemanusiaan sekaligus peringatan keras bagi kita semua. Dalam menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem, perlu sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga teknis untuk membangun sistem mitigasi yang lebih kuat—termasuk dalam pengelolaan pemakaman.

Semoga peristiwa ini menjadi momentum untuk memperbaiki dan mengantisipasi bencana serupa di masa depan, demi menjaga martabat orang yang telah tiada dan kenyamanan masyarakat yang hidup.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.