Pilkada Bontang: Menelusuri Mitos dan Dinamika Politik yang Memikat

Pasca-pemilu, perhatian politik kini beralih ke arah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bontang. Dengan beberapa nama yang mulai mencuat sebagai calon pemimpin, seperti petahana Basri Rase, Najirah, Neni Moerniaeni, hingga Agus Haris, serta tokoh non-partai politik seperti Sigit Alfian yang didukung oleh Ikapakarti Bontang, panggung politik Bontang semakin ramai.
Seorang pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Budiman, menyebut bahwa Pilkada Bontang memiliki dinamika yang sangat unik, dengan beberapa mitos yang masih melekat dalam kesadarannya.
Salah satu mitos yang mencuat adalah bahwa petahana selalu terjungkal dalam pilkada Bontang berikutnya. Budiman mengatakan bahwa sejak kepemimpinan Andi Sofyan Hasdam, belum ada kepala daerah yang berhasil memenangkan periode kedua. Hal ini menjadi tantangan bagi petahana Basri Rase untuk membuktikan keberhasilannya.
Baca Juga: Melahirkan Keunggulan Sabun merupakan Fenomena Biang Sabun di Marketplace
Budiman juga menyoroti fakta bahwa parpol dengan perolehan kursi terbanyak dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) tidak selalu menjadi pemenang dalam Pilkada. Beberapa pasangan yang didukung oleh poros besar bahkan telah mengalami kegagalan. Budiman menilai bahwa masalahnya terletak pada peran parpol yang sering hanya menjadi batu loncatan, terutama jika caleg dan mesin parpolnya tidak berjalan dengan maksimal.
Contoh konkret dari dinamika ini terlihat pada Pilkada 2015, di mana pasangan almarhum Adi Darma dengan Isro Umarghani yang didukung oleh enam partai justru kalah dengan Neni Moerniaeni-Basri Rase yang maju lewat jalur independen. Begitu pula pada Pilwali 2020, di mana Neni-Joni bersama delapan partai parlemen juga gagal melawan Basri-Najirah yang hanya maju lewat PKB dan PDI Perjuangan.
Melihat hasil Pileg 2024, terlihat bahwa Golkar menjadi pemenang dengan menyabet tujuh kursi di legislator, sedangkan PKB meraup empat kursi. Namun, apakah hasil ini akan mencerminkan pemenang di Pilkada nanti, masih menjadi pertanyaan besar.
Dengan begitu banyak dinamika dan mitos yang mempengaruhi politik Bontang, Pilkada menjadi ajang yang menarik untuk ditelusuri. Bagaimana calon pemimpin akan menaklukkan mitos dan dinamika politik ini, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









