Kaltim

Mengungkap Filosofi dan Sejarah Ketupat: Tradisi Lebaran yang Merakyat hingga Menyentuh Hati

Ragil Anggriani | 4 April 2024, 15:08 WIB
Mengungkap Filosofi dan Sejarah Ketupat: Tradisi Lebaran yang Merakyat hingga Menyentuh Hati

 

Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, dikenal tidak hanya karena keragaman etnisnya yang kaya, tetapi juga karena tradisi perayaan Idul Fitri atau Lebaran yang amat bervariasi. Salah satu tradisi yang tak terpisahkan dari momen suci ini adalah kehadiran makanan khas, yakni Ketupat.

Ketupat, makanan tradisional berbahan dasar beras yang dimasak dengan cara direbus dalam anyaman janur, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Namun, sedikit yang tahu bahwa tradisi Ketupat ini memiliki akar yang dalam dan filosofi yang menyentuh hati.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, tradisi Ketupat diyakini bermula dari penyebaran agama Islam di Pulau Jawa oleh salah satu tokoh Wali Songo, Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga, yang dikenal sebagai tokoh yang bijaksana dan berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, memperkenalkan Ketupat sebagai salah satu bentuk budaya yang berbaur dengan nilai-nilai keislaman.

Baca Juga: Revolutionizing Customer Experience: Zoom CX Summit Unveils the Power of AI in Shaping Customer Relations

Ketupat bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga menjadi sarana dakwah bagi Sunan Kalijaga. Melalui tradisi Bakda Lebaran dan Bakda Kupat, Sunan Kalijaga mengajak masyarakat Jawa untuk memahami dan memeluk agama Islam. Bakda Kupat, yang dimulai seminggu setelah Lebaran, menjadi momen di mana masyarakat mempersiapkan dan menganyam Ketupat sebagai bagian dari persiapan menyambut tamu dan kerabat yang berkunjung.

Filosofi Ketupat pun tidaklah sepele. Kata "Kupat" memiliki arti ganda, yakni "ngaku lepat" (mengakui kesalahan) dan "laku papat" (empat tindakan). Keempat tindakan tersebut meliputi luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar), dan laburan (menyucikan diri).

Isian beras pada Ketupat melambangkan hawa nafsu, sementara daun kelapa muda atau Janur merupakan simbol dari "jatining nur" atau cahaya sejati dari hati nurani. Dengan demikian, Ketupat memiliki makna mendalam sebagai simbol manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nurani.

Tradisi Ketupat yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak hanya menggambarkan kekayaan budaya Indonesia, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai yang mendalam tentang kesederhanaan, pengampunan, dan kebersamaan.

Melalui kedalaman filosofi dan sejarahnya, Ketupat tidak sekadar menjadi santapan lezat saat Lebaran, tetapi juga menjadi peringatan akan kebijaksanaan dan ketulusan dalam menjalani kehidupan. Sebuah warisan budaya yang patut kita jaga dan lestarikan dalam perayaan-perayaan keagamaan kita.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.