Wisata Eksotis di Kutai Kartanegara

Dua perahu meluncur dengan tenang di atas permukaan Sungai Hitam, membawa penumpang yang bersemangat untuk menyaksikan salah satu hewan ikonik Borneo, Bekantan. Perjalanan ini dimulai dari dermaga di Kampung Lama, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Mesin perahu beroperasi dengan hati-hati, memungkinkan para wisatawan melihat habitat alami Bekantan di hutan mangrove sepanjang Sungai Hitam.
Namun, keberuntungan belum berpihak kepada mereka, karena setelah sekitar satu jam perjalanan, belum ada tanda-tanda Bekantan yang terlihat. Namun, alam selalu penuh kejutan, dan selama perjalanan, mereka dapat melihat berbagai satwa lain, seperti ular dan sekelompok burung bangau.
Tidak menyerah, tim dari Pokdarwis Sungai Hitam Lestari, yang dipimpin oleh Aidil Amin, tidak putus asa. Mereka memutuskan untuk mencari Bekantan di aliran sungai yang lebih kecil, dan akhirnya, tujuh Bekantan terlihat di atas pohon rambai yang tinggi. Penampakan ini sangat memuaskan para pengunjung.
Baca Juga: Petugas Lapas Samarinda Raih Juara Cabang Olahraga Bina Raga: Dedikasi, Kerja Keras, dan Kebanggaan
Bekantan, atau yang juga dikenal sebagai "monyet belanda" karena hidungnya yang besar, adalah primata endemik Kalimantan. Hewan ini, karena keunikan hidungnya dan rambut cokelat merahnya, menjadi salah satu simbol ikonik pulau Kalimantan. Ciri khas lainnya adalah perut buncit dan kemampuannya berenang.
Aidil menjelaskan bahwa Bekantan cenderung aktif di pagi dan sore hari, sekitar pukul 07.00-10.00 dan pukul 15.00-17.00. "Namun, di luar waktu tersebut, para pengunjung masih berharap dapat melihat Bekantan, dan kami akan terus mencari hingga mereka ditemukan," katanya. Wisata susur Sungai Hitam beroperasi dari pukul 07.00 hingga 17.00.
Aidil adalah Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Hitam Lestari, yang terdiri dari enam anggota yang berasal dari Kampung Lama, Samboja. Mereka memiliki tekad kuat untuk menjaga dan melestarikan Bekantan, yang merupakan salah satu penghuni asli kawasan Sungai Hitam. Populasi Bekantan di kawasan ini mencapai ratusan ekor, dan bahkan ada beberapa yang dititipkan di sini untuk pelestarian.
Baca Juga: Merayakan Kekayaan Budaya dan Harmoni
Program Ekowisata Sungai Hitam Lestari dimulai pada tahun 2019 dan diinisiasi oleh Pertamina EP Sangasanga, Zona 9, Regional 3 Kalimantan, Subholding Upstream. Program ini berfokus pada upaya pelestarian Bekantan dan habitatnya, yang semakin terancam oleh aktivitas manusia seperti pemukiman, tambak, dan pertanian yang mengubah lingkungan mereka.
Sungai Hitam Lestari adalah destinasi wisata yang populer, baik bagi pengunjung domestik maupun asing. Sebelum pandemi COVID-19, mayoritas pengunjung berasal dari luar negeri. Namun, sejak pandemi, jumlah pengunjung domestik mulai meningkat.
Dalam upaya untuk menjaga keberlanjutan program ekowisata ini, Pokdarwis Sungai Hitam Lestari berharap mendapat dukungan dalam hal pemasaran digital dan pembangunan pusat literasi. Mereka percaya bahwa keberlanjutan program ini sangat penting untuk melindungi Bekantan dan menjaga ekosistem Sungai Hitam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









