Kaltim

Kaltim Optimalkan 14.000 Hektare Lahan Rawa di 2025

Ragil Anggriani | 12 Juni 2025, 13:47 WIB
Kaltim Optimalkan 14.000 Hektare Lahan Rawa di 2025

Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kian mantap memperkuat posisinya sebagai kontributor utama dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Melalui program Optimalisasi Lahan Rawa (Oplah), Kaltim menargetkan pengelolaan lahan pertanian seluas 13.973 hektare di enam kabupaten/kota strategis sepanjang tahun 2025.

Langkah ambisius ini menjadi bagian dari program nasional yang dirancang untuk mengoptimalkan potensi lahan rawa pasang surut dan lebak—area yang selama ini belum dimaksimalkan untuk pertanian produktif. Dengan pendekatan teknis yang komprehensif dan partisipatif, Kaltim kini berada di garda terdepan dalam menghadapi tantangan pangan global dan iklim.

“Program Oplah dilaksanakan hanya di lokasi-lokasi yang telah melalui proses Survei Investigasi Desain Optimasi Lahan Rawa. Artinya, semua sudah berbasis data dan peta,” ungkap Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Siti Farisyah Yana, saat menyampaikan keterangannya di Samarinda, Rabu (11/6/2025).

Baca Juga: Kolaborasi Budaya Dunia Bangkitkan Ekonomi Kreatif Kaltim!

Enam wilayah yang berperan dalam proyek ini adalah:

  • Penajam Paser Utara (PPU) – 5.896 hektare, 29 Brigade Pangan
  • Paser – 3.150 hektare, 16 Brigade Pangan
  • Kutai Kartanegara – 2.392 hektare, 12 Brigade Pangan
  • Kutai Timur – 1.200 hektare, 6 Brigade Pangan
  • Berau – 895 hektare, 5 Brigade Pangan
  • Samarinda – 440 hektare, 2 Brigade Pangan

Total ada 70 Brigade Pangan (BP) yang diterjunkan sebagai tenaga teknis pendamping, memastikan proses optimalisasi berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

Program Oplah tidak sembarangan memilih lokasi. Ada beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi:

  • Lahan tidak dalam kawasan hutan atau gambut moratorium
  • Bebas konflik agraria
  • Memiliki sumber air cukup untuk pertanian berkelanjutan
  • Mampu mencapai Indeks Pertanaman ≥ 200 (dua kali panen per tahun)
  • Dilengkapi dengan poligon shapefile (shp) sesuai luasan lahan

Langkah ini bertujuan agar program tak hanya jangka pendek, tetapi berdampak jangka panjang untuk pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Perkuat Kelembagaan dan Efektivitas Legislasi, DPRD Kaltim Lakukan Studi Strategis ke DPRD Jakarta

Tak hanya aspek teknis lahan, kesiapan petani juga menjadi kunci keberhasilan. Petani yang dilibatkan harus tergabung dalam kelompok tani aktif, serta menyatakan kesanggupan menjalankan kegiatan berdasarkan pedoman teknis yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

“Kami ingin petani yang benar-benar siap, disiplin, dan bisa menjalankan arahan teknis. Ini bukan sekadar proyek tanam, tapi misi strategis nasional,” ujar Yana.

Optimalisasi lahan ini tak hanya untuk mencukupi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga menyokong daerah-daerah lain, terlebih menjelang migrasi besar-besaran ke wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam kondisi perubahan iklim dan pertumbuhan populasi, upaya ini akan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar pulau serta menstabilkan harga pangan.

Langkah ini juga mendukung misi Presiden RI dalam menciptakan kemandirian pangan dan memperkuat ketahanan nasional dari aspek ekonomi, sosial, dan geopolitik.

???? Dampak Positif Optimalisasi Lahan Rawa:

  1. Peningkatan produksi padi dan hortikultura
  2. Peningkatan pendapatan petani
  3. Pemanfaatan lahan tidur menjadi produktif
  4. Pengurangan ketergantungan impor pangan
  5. Dukungan nyata terhadap pembangunan IKN

Program Oplah 2025 menjadi model kolaboratif antara:

  • Pemerintah Pusat
  • Pemerintah Daerah
  • Petani
  • Brigade Pangan
  • Dunia usaha & lembaga keuangan (melalui pembiayaan input produksi)

Model ini tak hanya menekankan kuantitas produksi, tetapi juga:

  • Efisiensi tata air
  • Pola tanam yang adaptif
  • Manajemen pascapanen dan pemasaran

Di tengah transformasi Kalimantan Timur menuju pusat pemerintahan nasional baru, provinsi ini tidak ingin hanya dikenal sebagai lumbung energi dan tambang. Melalui Program Oplah 2025, Kaltim ingin dikenang sebagai pionir ketahanan pangan berkelanjutan, yang memanfaatkan sumber daya alamnya untuk keberlangsungan hidup seluruh bangsa.

“Kami tidak sekadar menanam, tapi membangun masa depan pangan Indonesia dari Kalimantan Timur,” tutup Yana.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.