Kadinkes Kaltim Menjadi Relawan Digigit Nyamuk Wolbachia di FK UGM

Bakteri wolbachia, fenomena yang tengah menjadi sorotan di dunia medis, telah membawa Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kadinkes Kaltim), dr. Jaya Mualimin ke Laboratorium Entomologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM). Sebagai relawan, dr. Jaya Mualimin berbagi pengalaman unik dengan menjadi saksi sejati digigit nyamuk Aedes Aegypti yang diinfeksi wolbachia, sebagai langkah proaktif dalam penanggulangan Demam Berdarah (DBD).
Pengalaman dr. Jaya Mualimin di laboratorium menjadi sebuah cerita yang memukau dan mencerahkan, di mana ia mampu melihat secara langsung proses pembiakan nyamuk Aedes Aegypti yang telah diinokulasi dengan bakteri wolbachia. Saat melihat perjalanan dari telur, jentik hingga menjadi nyamuk dewasa, dr. Jaya Mualimin merasakan keunikan dan daya hidup nyamuk ini dalam penelitian yang telah mencapai generasi kedelapan puluhan.
Wolbachia, yang ditemukan pada beberapa serangga, termasuk Aedes Albopictus, menjadi kunci dalam pengendalian DBD. Kehadiran bakteri ini mampu menonaktifkan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti, membuka peluang baru dalam upaya pencegahan penyakit DBD yang masih menjadi perhatian serius di Indonesia.
Baca Juga: Rekapitulasi Suara Pemilu 2024 Kaltim: 8 Wakil Menuju Senayan, Partai Golkar Dominan
Saat mengikuti proses donor darah langsung untuk memberikan sumber makanan pada nyamuk dewasa, dr. Jaya Mualimin menceritakan sensasi yang unik dan mengejutkan dari gigitan nyamuk yang diinfeksi wolbachia. Ia menggambarkan rasa seperti kena kejutan mikrolistrik, menjadi kesan yang tak terlupakan dari keberaniannya menjadi bagian dari penelitian ini.
Dalam kesaksiannya, dr. Jaya Mualimin juga menyoroti bahwa wolbachia memberikan harapan signifikan dalam menurunkan kasus DBD. Metode pengendalian vektor berbasis wolbachia telah menunjukkan penurunan kasus hingga 77 persen dan mengurangi pasien yang dirawat di rumah sakit akibat virus dengue dibandingkan dengan metode konvensional.
"Saya merasa luar biasa bahwa wolbachia bisa menjadi solusi nyata untuk mengurangi kasus DBD di masa depan. Ini adalah langkah progresif dan saya berharap bahwa keberanian kita sebagai relawan dapat mengilhami masyarakat untuk lebih aktif dalam upaya pencegahan penyakit ini," ungkap dr. Jaya Mualimin.
Dengan pengalaman unik ini, dr. Jaya Mualimin turut menyampaikan harapannya bahwa wolbachia akan menjadi alat yang efektif untuk menjaga Aedes Aegypti agar tidak menjadi vektor transmisi virus dengue. Ia percaya bahwa dengan langkah-langkah proaktif seperti ini, masyarakat akan semakin percaya bahwa DBD bukan lagi momok menakutkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









