Kaltim

Antrean Pembelian BBM Pertalite di Balikpapan Menyebabkan Kendala Lalu Lintas

Ragil Anggriani | 8 November 2023, 08:14 WIB
Antrean Pembelian BBM Pertalite di Balikpapan Menyebabkan Kendala Lalu Lintas

Antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di Balikpapan telah menjadi pemandangan yang umum, meskipun Balikpapan adalah kota yang menjadi pusat pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar minyak (BBM) yang dioperasikan oleh Pertamina. Situasi ini menantang tagline Pemerintah Kota "Balikpapan Nyaman," dan telah menyebabkan kemacetan lalu lintas di beberapa wilayah kota.

Antrean kendaraan melebihi batas SPBU dan merambat hingga ke badan jalan, menyempitkan jalan dan menciptakan kemacetan yang tak terhindarkan. Meskipun telah berbulan-bulan berlalu, belum ada tanda-tanda kapan situasi pembelian BBM di SPBU akan kembali normal. Pertamina, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengoperasikan SPBU, mengklaim telah mencari solusi untuk mengurangi antrean yang terjadi setiap hari di Balikpapan.

Salah satu langkah yang diambil Pertamina adalah mengatur jalur antrean kendaraan yang akan mengisi BBM jenis Pertalite, sambil memastikan jalur BBM non-subsidi tidak terganggu, khususnya jalur "red carpet" untuk konsumen Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex. Mereka juga mendorong konsumen dengan kendaraan berjenis RON 92 atau lebih untuk mengisi kendaraan mereka dengan Pertamax.

Baca Juga: Kontraktor Proyek Gedung Perawatan Pandurata RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Ditegur Empat Kali karena Pr

Namun, tidak semua SPBU di Balikpapan melayani penjualan Pertalite. Pertamina menawarkan beragam jenis BBM non-subsidi, seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan solar, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

Kendala utama dalam penanganan antrean panjang ini adalah peraturan lokal yang dibuat oleh pemerintah daerah setempat. Pembatasan pembelian Pertalite dan solusi lainnya berada di bawah yurisdiksi pemerintah daerah, dan pihak Pertamina menunggu peraturan presiden yang lebih baru sebelum membuat aturan tegas.

Pertalite menjadi pusat perhatian ketika berita tentang penghapusan BBM tersebut menyebar pada awal September. Pertamina mengklarifikasi bahwa Pertalite sebenarnya sedang dalam kajian untuk penambahan komposisi bioetanol, bukan penghapusan. Ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas BBM tersebut tanpa mengubah harganya.

Baca Juga: PBB Mendukung Pembangunan Ibu Kota Nusantara: Kolaborasi untuk Kemajuan Global

Antrean panjang bukan hanya masalah kesulitan bagi para pengemudi, tetapi juga berdampak pada aktivitas distribusi barang. Seiring dengan perkembangan ekonomi dan infrastruktur di Kalimantan Timur, kebutuhan akan BBM semakin meningkat. Oleh karena itu, penambahan kuota BBM subsidi harus segera dipertimbangkan dan direvisi agar ekonomi tetap berjalan lancar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur, Slamet Brotosiswoyo, telah berupaya keras memperjuangkan penambahan kuota BBM subsidi untuk mendukung kegiatan bisnis di daerah tersebut. Ia telah mengadakan pertemuan dengan pengusaha dan bahkan mengunjungi SPBU untuk mendengarkan keluhan dari para pengemudi truk dan sopir ekspedisi. Kesulitan dalam mendapatkan BBM tersebut tidak hanya memengaruhi perekonomian, tetapi juga mengganggu hubungan keluarga para pengemudi yang harus menghabiskan waktu berhari-hari di antrean.

Perubahan dalam peraturan pembagian kuota BBM subsidi harus segera diadakan dan harus mencerminkan perkembangan ekonomi dan pertumbuhan wilayah. Seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan pusat, harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah antrean panjang ini yang telah berkepanjangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.