Kaltim Menerapkan Hilirisasi Sektor Migas untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Kaltim, sebuah daerah penghasil minyak dan gas alam (migas), terus berupaya meningkatkan pembangunan hilirisasi industri migas sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Sekdaprov Kaltim, Ujang Rachmat, menjelaskan bahwa kebijakan ini menjadi penting karena kontribusi sektor migas di Kaltim mengalami penurunan setiap tahun.
Dalam keterangannya di Samarinda, Ujang Rachmat menyatakan bahwa sektor migas telah mengalami penurunan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim, baik dari sektor hulu migas maupun dari pengelolaannya. Kaltim, yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi migas terbesar di Indonesia, perlu mencari alternatif untuk mengatasi penurunan ini dan memitigasi dampaknya terhadap perekonomian daerah.
Ujang Rachmat menekankan pentingnya memanfaatkan potensi gas yang masih ada secara efektif, terutama jika tidak ada penemuan lapangan gas baru yang signifikan. Salah satu langkah penting adalah mempercepat proses hilirisasi migas dan memastikan bahwa industri-industri yang memerlukan pasokan gas dapat berkembang dengan baik.
Baca Juga: DPRD Balikpapan Meminta Keberadaan SPBU Mini Dikaji Ulang
Sebagai upaya untuk mendukung hilirisasi migas, Kaltim telah membangun fasilitas industri pengolahan (smelter) dan memiliki industri pupuk yang telah beroperasi di Bontang. Upaya lain termasuk membangun infrastruktur jaringan gas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan industri dan proyek strategis seperti Ibu Kota Negara (IKN).
Deklinasi dalam produksi gas menjadi perhatian utama. Apabila pasokan gas tidak terjamin, Kaltim berpotensi kehilangan 10 hingga 15 persen dari PDRB-nya. Oleh karena itu, pemerintah daerah melakukan berbagai langkah untuk memastikan pasokan gas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan industri hilir migas sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









