Kaltim

BRGM Mempercepat Rehabilitasi Mangrove untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kalimantan Timur

Ragil Anggriani | 9 Oktober 2023, 05:43 WIB
BRGM Mempercepat Rehabilitasi Mangrove untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kalimantan Timur

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) berkomitmen untuk memulihkan ekosistem mangrove dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kalimantan Timur. Upaya rehabilitasi ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara pemulihan lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat setempat.

Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Hartono, menyampaikan bahwa fokus BRGM tidak hanya pada aspek lingkungan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada ekosistem mangrove.

"Kami tidak hanya ingin memulihkan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir yang bergantung pada ekosistem mangrove," ujar Hartono dalam sebuah siaran pers.

Baca Juga: Kabupaten Penajam Kerahkan Mobil Tangki untuk Mengatasi Krisis Air Akibat Kekeringan

BRGM telah menginisiasi program percepatan rehabilitasi ekosistem pesisir yang melibatkan perguruan tinggi dan masyarakat setempat. Salah satu metode rehabilitasi yang digunakan adalah "smart silvofishery," yang merupakan pola tanam yang menggabungkan budidaya ikan dengan penanaman mangrove.

Hartono menjelaskan bahwa "smart silvofishery" merupakan hasil penelitian dari Universitas Mulawarman yang diterapkan pada lahan tambak milik masyarakat. Metode ini mencakup empat aspek penting, yaitu edukasi dan sosialisasi, pembuatan demplot, penguatan ekonomi kemandirian desa, dan kebijakan publik tentang pengelolaan sumber daya alam (SDA).

Dengan menerapkan metode ini, BRGM berharap dapat menjaga ekosistem mangrove sambil meningkatkan pendapatan masyarakat. Menurut Prof Esti Handayani Hardi dari Universitas Mulawarman, "smart silvofishery" dapat meningkatkan hasil panen ikan hingga 40 kilogram per hektar, dibandingkan dengan tanpa keberadaan mangrove yang hanya menghasilkan sekitar 12-14 kg per hektar.

Baca Juga: Nelayan di Penajam Diarahkan untuk Membuat Olahan Ikan Selama Musim Kemarau

Selain itu, mangrove juga berperan sebagai filter air, sumber nutrien, dan penstabil kualitas air yang mendukung budidaya udang. Hal ini dapat mengurangi biaya produksi dan membuat produk perikanan lebih terjangkau.

Salah satu kelompok tani hutan (KTH) yang merasakan manfaat dari "smart silvofishery" adalah KTH Lembu Lestari di Desa Muara Badak, Kota Samarinda. Ketua KTH Lembu Lestari, Heriyadi, mengatakan bahwa hasil panen ikan mereka telah meningkat melalui penerapan metode ini, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan mereka.

BRGM juga telah berhasil melaksanakan rehabilitasi mangrove seluas 38.549 hektar di sembilan provinsi prioritas sejak 2021, yang telah menyerap tenaga kerja sebanyak 38.232 orang dari 1.047 kelompok.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah dan Kejayaan Kerajaan Kutai Muara Kaman dan Kutai Kartanegara

Untuk menjaga kesinambungan rehabilitasi mangrove, BRGM berencana untuk bekerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), dalam upaya percepatan rehabilitasi mangrove.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.