Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu.

Alkisah di Desa Melanti, Hulu Dusun, hiduplah sepasang suami istri, Kepala Hulu Dusun dan istrinya, Babu Jaruma. Mereka sudah cukup tua dan masih belum mempunyai anak. Mereka selalu berdoa kepada para dewa agar diberikan kelahiran seorang anak untuk penerusnya.
Suatu hari, situasi tiba-tiba menjadi sangat buruk. Hujan deras terjadi selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti, diiringi gemuruh guntur dan hembusan angin yang cukup kencang. Tidak ada warga Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Kepala Hulu Dusun dan istrinya.
Pada hari ketujuh, sumber kayu bakar keluarga untuk memasak telah habis. Mereka tidak berani keluar rumah karena cuaca sangat buruk. Akhirnya, kepala suku memutuskan untuk menggunakan salah satu kasau di atap rumahnya untuk kayu bakar.
Baca Juga: Pegawai dan aset Pemkab Penajam akan dilimpahkan ke Otoritas IKN pada Mei 2024
Saat Kepala Hulu Dusun sedang membelah balok, ia terkejut melihat seekor ulat kecil yang sedang meringkuk menatapnya dengan sorot mata lemah lembut, seolah memohon belas kasihan dan perhatian darinya. Ketika ulat tersebut ditemukan oleh pemimpinnya, terjadilah keajaiban alam. Hujan deras disertai petir dan kilat selama tujuh hari tujuh malam tiba-tiba berhenti. Hari cerah seperti sebelumnya dan matahari muncul dari balik awan putih. Seluruh warga Hulu Dusun bersyukur dan berbahagia atas perubahan cuaca ini.
Ulat kecil tersebut dirawat dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin memberikan suguhan dan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat-ulat tersebut. Hari demi hari, bulan demi bulan, ulat itu tumbuh dengan pesat dan menampakkan wujud seekor naga.
Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu dengan seorang putri cantik jelmaan naga. “Orang tua tidak perlu takut pada Ananda.” sang putri berkata, “Meskipun kamu sudah besar dan menakutkan bagi penduduk desa ini, izinkan aku pergi. Dan buatlah tangga agar bisa meluncur ke bawah.
Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada istrinya. Kemudian mereka berdua membuat tangga bambu. Ketika naga itu hendak turun, ia berbicara dan suaranya identik dengan suara sang putri yang mendengarnya dalam mimpi pemimpin tadi malam.
“Ketika anak-anak pergi ke darat, orang tua harus mengikuti kemanapun mereka pergi. Selain itu, anak saya juga meminta ayahnya untuk membakar biji wijen hitam dan menaburkan nasi kuning di atasnya. Jika Anda merangkak menuju sungai dan masuk ke dalam air, ikutilah buih yang muncul di permukaan sungai.
Naga itu menuruni tangga menuju tanah lalu berjalan menuju sungai bersama kepala suku dan istrinya. Setelah sampai di sungai, naga tersebut berenang 7 kali berturut-turut ke hulu dan 7 kali ke hilir lalu berenang menuju Mep Da. Di pinggir batu, naga itu berenang 3 kali ke kiri dan 3 kali ke kanan dan akhirnya terjun ke bawah.
Baca Juga: Risiko hujan lebat disertai petir terjadi di tiga tempat di Kaltim
Ketika naga merpati muncul, badai dahsyat muncul, air naik, hujan dan guntur terus berlanjut. Perahu yang membawa pejabat tinggi itu didayung hingga ke pantai. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi damai kembali, matahari muncul kembali diiringi hujan rintik-rintik. Kepala suku dan istrinya sangat terkejut. Mereka mengamati permukaan Sungai Mahakam, mencari keberadaan naga tersebut.
Tiba-tiba mereka melihat permukaan Sungai Mahakam dipenuhi buih. Pelangi memfokuskan warnanya pada busa yang naik ke permukaan air. Babu Jaruma tampak seperti kumala yang bersinar terang. Mereka mendekati gelembung cahaya tersebut dan terkejut melihat di dalam gelembung tersebut terdapat seorang gadis kecil yang tergeletak di dalam gong. Kemudian gong dibunyikan dan naga yang telah menghilang terlihat memegang gong tersebut. Ketika gong dan naga muncul dari dalam air, mereka melihat seekor binatang aneh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









