Kaltim

Monster Sangatta: Mengenang Perburuan Buaya Besar yang Menggemparkan Kaltim

Ragil Anggriani | 8 November 2023, 17:35 WIB
Monster Sangatta: Mengenang Perburuan Buaya Besar yang Menggemparkan Kaltim

Tepat 27 tahun yang lalu, peristiwa yang menggemparkan terjadi di Sungai Kenyamukan, Sangatta, Kalimantan Timur. Sebuah buaya raksasa yang dikenal sebagai "Monster Sangatta" menyerang dan memakan seorang perempuan bernama Hairani. Tragedi ini memicu perburuan yang melibatkan pawang, petugas, dan warga setempat yang ingin menghentikan teror buaya ini. Artikel ini mengungkapkan seluruh kronologi peristiwa ini dan bagaimana masyarakat setempat dan media seperti Manuntung menjadi saksi peristiwa ini yang "viral" tanpa media sosial.

1. Latar Belakang Tragedi: Pada pembuka Maret 1996, Hairani, seorang perempuan berusia 35 tahun, sedang mencuci pakaian di Sungai Kenyamukan, Sangatta, ketika tiba-tiba dia diterkam oleh seorang buaya besar. Kejadian ini menggemparkan masyarakat setempat dan membuka babak baru dalam perburuan buaya ini.

2. Perburuan Monster Sangatta: Tragedi ini memicu upaya pencarian buaya tersebut yang melibatkan pawang, petugas kepolisian, dan warga setempat. Mereka menyusuri Sungai Kenyamukan selama sepekan untuk menemukan buaya yang memangsa Hairani.

Baca Juga: 10 Teknologi Terbaru yang Akan Mengubah Dunia di Masa Depan

3. Pawang dan Mantra: Pawang yang ikut dalam perburuan menggunakan mantra khusus dan bahkan telur ayam untuk memanggil buaya tersebut. Mereka percaya bahwa buaya yang telah memangsa manusia akan merasa bersalah dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

4. Kehadiran Monster Sangatta: Setelah beberapa hari, buaya muncul di dekat muara Sungai Kenyamukan, memicu kegemparan di kalangan warga. Pembatasan ketat diberlakukan untuk menjaga keamanan, dan petugas kepolisian siaga untuk menembak buaya jika diperlukan.

5. Pencarian Berakhir: Pencarian Monster Sangatta berakhir ketika buaya muncul untuk kedua kalinya. Anggota polisi yang siaga menembak hewan tersebut hingga tewas pada 8 Maret 1996. Tubuh Monster Sangatta kemudian diangkat ke darat.

Baca Juga: Mengungkap Misteri Monkeypox: Penyakit Zoonosis yang Mengintai Manusia

6. Kepentingan Media: Media cetak seperti Manuntung memainkan peran penting dalam memberitakan tragedi ini kepada masyarakat. Meskipun media sosial belum ada pada saat itu, masyarakat sangat antusias untuk mendapatkan informasi tentang Monster Sangatta dan bahkan ada yang memfotokopi koran untuk dibagikan.

7. Buaya di Museum: Tragedi Monster Sangatta dan insiden serupa yang melibatkan buaya di Kaltim menyebabkan beberapa pihak mengusulkan untuk melestarikan tubuh buaya-buaya ini di sebuah museum. Bupati Kutai, Ahmad Maulana Sulaiman, setuju dengan usulan tersebut. Sekarang, sepasang buaya ini masih dapat dilihat di Museum Kayu Tuah Himba.

Dalam sejarah Kaltim, Monster Sangatta tetap menjadi salah satu peristiwa yang paling diingat, mengingat betapa mengerikannya serangan buaya ini dan perburuan yang dilancarkan untuk mengakhiri terornya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.