Kaltim

Gejolak Bonus dan Medali Cabor E-Sports: Kontroversi di Balik Porprov VII Kaltim

Ragil Anggriani | 10 Desember 2023, 18:36 WIB
Gejolak Bonus dan Medali Cabor E-Sports: Kontroversi di Balik Porprov VII Kaltim

Kisah kontroversi dalam Cabang Olahraga (Cabor) E-Sports Indonesia (ESI) Berau memunculkan sorotan tajam di masyarakat. Gejolak bermula dari dugaan adanya pemotongan bonus atlet, bahkan hingga tuduhan terhadap perolehan medali yang diduga diatur secara settingan pada Perhelatan Porprov VII Kaltim.

Evelin, salah satu atlet ESI Berau, mengungkapkan bahwa dirinya diminta untuk menyumbangkan sekitar 30 persen dari bonus yang diterimanya atas medali emas di divisi Mobile Legend (ML) pada Porprov VII Kaltim 2022.

“Saya diminta memberikan 30 persen dari bonus karena dikatakan akan diberikan kepada atlet yang tidak mendapat medali. Mereka menyebut kami sebagai penerima ‘medali hantu’,” ungkap Evelin belum lama ini.

Baca Juga: Road Race Bupati Paser Cup 2023: Memeriahkan Ulang Tahun ke-64 Kabupaten Paser dengan Ajang Balap Motor yang Menggebu

Evelin menjelaskan bahwa namanya dimasukkan dalam kompetisi olahraga tingkat provinsi itu bukan atas permintaannya, melainkan atas inisiatif pihak pengurus.

“Jika saya tidak mau membayar (30 persen, red), mereka mengancam akan membuka informasi tentang penerima medali tersebut ke publik,” terangnya.

Tak hanya dugaan pemotongan bonus, Evelin juga merasa terintimidasi dan dilecehkan secara pribadi oleh pihak pengurus, bahkan mendapat ancaman yang tidak menyenangkan.

“Saya merasa risih dengan perlakuan mereka yang menyerang saya secara pribadi dan juga orang-orang terdekat saya. Saya merasa diancam, dihina, dan diminta membayar,” tambahnya.

Baca Juga: Borneo FC Memenangkan Pertandingan 2-0 Menyambut Proyek Revitalisasi Stadion Segiri

Di sisi lain, Ketua ESI Berau, Akbar Patompo, mengakui bahwa perolehan medali atlet tersebut sebenarnya tidak melalui perjuangan, melainkan hasil pengaturan dari pihak pengurus.

Namun, Akbar mengklaim bahwa pemotongan 30 persen dari bonus bukan untuk kepentingan pengurus, melainkan untuk semua pelatih, official, dan atlet lainnya. Potongan itu, menurutnya, bukan dalam konteks paksaan, tapi sebagai bentuk sukarela.

Kisah kontroversial ini semakin menjadi sorotan tajam di tengah pertanyaan seputar etika, keadilan, dan transparansi dalam olahraga, khususnya di Cabor E-Sports.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.