Kaltim

Begini Alasan RI Belum Ekspor Listrik ke Singapura Tahun Ini

Ahmad Munjin | 10 Juni 2026, 00:10 WIB
Begini Alasan RI Belum Ekspor Listrik ke Singapura Tahun Ini
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Wakil PM Singapura sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong (kanan) saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/6/2026). ANTARA/Bayu Saputra

AKURAT KALTIM - Kebijakan ekspor listrik bersih ke Singapura ditengarai belum bisa dimulai tahun ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan alasannya.

Ia menilai pembangunan infrastruktur transmisi untuk mendukung ekspor listrik ke Singapura membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 tahun.

Baca Juga: PSEL Kaltim Siap Kelola 1.270 Ton Sampah Jadi Listrik

“Tidak (bisa terlaksana tahun ini). Membangun fasilitas transmisi listrik setidaknya membutuhkan waktu 1 - 1,5 tahun untuk diimplementasikan,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Terkait perkembangan kebijakan tersebut, Airlangga mengatakan pemerintah saat ini masih melakukan evaluasi teknis bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Baca Juga: PLN Mendukung IKN dengan Sistem Kelistrikan Modern dan Ramah Lingkungan

“Saya pikir untuk hal ini kami masih mengevaluasi aspek teknisnya dengan Menteri ESDM. Harapannya saat pertemuan pemimpin nanti kita bisa memfinalisasi implementasi dari MoU yang sudah ditandatangani tahun lalu,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait ekspor listrik bersih ke Singapura dengan kapasitas mencapai 3,4 gigawatt (GW) hingga 2035.

Kesepakatan ekspor listrik bersih tersebut tercapai setelah melalui proses negosiasi yang cukup panjang.

Baca Juga: Mengubah Mobilitas Kota: Ibu Kota Nusantara (IKN) Bertransformasi Menjadi Kota Listrik

Bahlil sebelumnya beberapa kali menyampaikan keberatan apabila Indonesia hanya mengekspor listrik bersih tanpa memperoleh manfaat timbal balik dari Singapura.

Hasil negosiasi kemudian menghasilkan kesepakatan pengembangan kawasan industri berkelanjutan yang akan dibangun bersama di Kepulauan Riau, meliputi Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).

“Saya katakan bahwa hubungan kerja sama harus dilakukan dengan prinsip saling menguntungkan. Kami mengirim listrik ke Singapura, dan dari hasil negosiasi, Singapura bersama Indonesia akan membangun kawasan industri bersama,” kata Bahlil, Jumat (13/6/2025).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A