Kaltim

Iran Masih Pikir-Pikir untuk Kembali Berunding dengan AS

Ahmad Munjin | 15 Agustus 2026, 18:57 WIB
Iran Masih Pikir-Pikir untuk Kembali Berunding dengan AS
Seorang pria berjalan di depan mural dinding saat kehidupan sehari-hari berlanjut di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat di Teheran, Iran, pada 6 Agustus 2026. ANTARA/Fatemeh Bahram/Anadolu Agency

AKURAT KALTIM - Teheran belum memutuskan apakah akan kembali berunding secara tidak langsung dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu datang dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seraya menegaskan pertukaran pesan melalui mediator tidak boleh dianggap sebagai tanda perundingan telah kembali dimulai.

Berbicara kepada kantor berita Iran, ISNA, pada Jumat (14/8/2026), Menlu Iran itu juga menepis laporan yang menyebut bahwa gencatan senjata selama 60 hari harus diperpanjang.

Baca Juga: Tekan Iran, Trump Siap Deklarasi Hormuz sebagai Wilayah AS

Gencatan senjata itu didasarkan pada memorandum Islamabad, yang merupakan kerangka kesepakatan damai dengan AS yang dimediasi Pakistan pada Juni.

“Yang tercantum dalam memorandum Islamabad adalah berakhirnya perang, bukan gencatan senjata. Amerika Serikat melanggar memorandum tersebut dan pertempuran kembali terjadi. Karena itu, tidak ada gencatan senjata 60 hari yang perlu diperpanjang,” katanya.

Baca Juga: Siap-Siap! Musuh-Musuh Iran Bakal Dilarang Masuk Teluk

Ia menjelaskan bahwa periode 60 hari dalam memorandum tersebut dimaksudkan sebagai waktu untuk melakukan negosiasi guna mencapai kesepakatan akhir, bukan sebagai jangka waktu gencatan senjata.

“Baik Qatar dan Pakistan masih terus bertukar pesan dan berkomunikasi dengan kami, tetapi itu bukan berarti negosiasi. Belum ada keputusan untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat,” ujarnya.

Baca Juga: Trump Sesumbar AS Siap Tingkatkan Eskalasi Militer kepada Iran

Araghchi mengatakan negosiasi Iran dengan Oman masih berlangsung, tetapi sepenuhnya terpisah dari pembahasan apa pun dengan Washington.

Ia menjelaskan bahwa perundingan tersebut merupakan negosiasi teknis yang berfokus pada penetapan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz, karena rute-rute sebelumnya sudah tidak lagi sesuai.

Baca Juga: RUU Iran Ini Bakal Melarang Kapal AS-Israel Lewat Selat Hormuz

“Saat ini kami sedang merancang rute sementara yang nantinya akan menjadi rute permanen,” katanya.

Menteri Iran itu menambahkan bahwa para ahli dari kedua negara serta angkatan bersenjata Iran terlibat dalam pembahasan tersebut dan negosiasi tersebut kemungkinan dapat segera selesai.

Araghchi juga menegaskan bahwa negosiasi teknis mengenai jalur pelayaran tidak boleh disamakan dengan persoalan pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Setelah rute ditentukan, keputusan mengenai apakah Selat Hormuz akan dibuka kembali bergantung pada pemenuhan persyaratan lainnya yang harus dipatuhi Amerika Serikat,” ujarnya.

Sumber: Anadolu

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A