Skandal Suap Kepala Satker BBJPN Kaltim: Nama Wali Kota Balikpapan Masuk Daftar Pengembangan KPK

Skandal suap yang melibatkan Kepala Satker BBJPN Kaltim terus menggeliat dan kini mengarah pada sorotan yang lebih luas. Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud, telah menjadi bagian dari pengembangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menurut pernyataan Direktur Penyidikan KPK, Asep Guntur Rahayu, dalam konferensi pers yang berlangsung di Gedung Merah Putih KPK pada Jumat (8/12) malam.
Percaturan skandal ini telah menyingkap nama-nama penting dalam lingkaran kepemimpinan, dengan Wali Kota Balikpapan menjadi fokus setelah namanya muncul dalam pertanyaan salah satu wartawan saat KPK merilis hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kaltim pada 24 November lalu.
Pertanyaan terhadap hubungan dekat Rahmad Mas'ud dengan salah satu kontraktor yang menjadi tersangka telah menjadi sorotan utama. KPK telah memperdalam investigasi terkait isu ini. Asep Guntur Rahayu menyatakan bahwa jika ada keterkaitan yang jelas, Wali Kota Balikpapan akan dipanggil sebagai saksi dalam penyelidikan ini.
Baca Juga: OTT KPK di Kaltim: 5 Tersangka Ditetapkan, Uang Rp 525 Juta Disita
Rahmad Mas'ud, dalam tanggapannya terhadap kehadiran namanya dalam konteks ini, menunjukkan sikap santai. Ketika ditanya oleh apahabar.com pada Selasa (28/11), ia berkomentar, "Tanyain aja sama yang menanyakan itu kenapa nama saya dihubungin." Responsnya terhadap tudingan kedekatannya dengan salah satu tersangka juga terbilang singkat, dengan gestur yang menunjukkan penolakan.
Skandal ini melibatkan tidak hanya Rahmad Mas'ud, namun juga dua nama pejabat lainnya. Kepala Satker BBPJN Kaltim Tipe B, Rahmat Fadjar, dan PPK pada Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Kaltim, Riado Sinaga, telah menjadi bagian dari sorotan KPK terkait kasus ini.
Selain para pejabat, tiga nama kontraktor juga terlibat sebagai tersangka dalam kasus suap yang terjadi di Kantor BBPJN Kaltim pada 23 November lalu. Abdul Nanang Ramis dari PT Fajar Pasir Lestari (FPL) bersama staf dan menantunya, Hendra Sugiono, serta Direktur CV Bajasari, Nono Mulyanto, telah tertangkap tangan saat melakukan transaksi yang terindikasi melibatkan suap.
Kasus ini terus menarik perhatian publik karena melibatkan nama-nama penting dalam lingkaran pemerintahan, serta menyoroti tindakan korupsi yang merugikan dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem. KPK terus mengintensifkan penyelidikan untuk mengungkap seluruh jaringan dan memastikan keadilan terwujud dalam penanganan kasus ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









