Kaltim

Jalan Menuju Indonesia Berdaulat di Bidang Pangan.

Ragil Anggriani | 3 November 2024, 14:10 WIB
Jalan Menuju Indonesia Berdaulat di Bidang Pangan.

Dalam upaya mendukung kedaulatan pangan nasional, Gerakan Peduli Tani Nelayan (GPTN) menggelar acara daring bertajuk *"Jalan Menuju Indonesia Berdaulat di Bidang Pangan"*. Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pertanian dan masyarakat umum dalam rangka merumuskan langkah-langkah strategis untuk mencapai kemandirian pangan melalui pendekatan dan inovasi baru.

Hadir dalam acara ini Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., Guru Besar Sosiologi Pertanian sekaligus Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, yang menyampaikan gagasan mendalam tentang pentingnya Platform Digital Nasional guna mencapai kedaulatan pangan di Indonesia. Dalam diskusi ini, Prof. Mangku menekankan bahwa sektor pertanian Indonesia memerlukan terobosan teknologi untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada, serta menciptakan ekosistem yang mendukung kemandirian pangan dan kesejahteraan petani.

Prof. Mangku memaparkan bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi sektor pertanian Indonesia adalah fragmentasi, di mana berbagai pihak bekerja secara terpisah tanpa koordinasi yang kuat. Hal ini menciptakan ketidakefisienan dalam proses produksi hingga distribusi, serta menghambat kolaborasi antar-pihak yang berpotensi menghasilkan nilai tambah.

Baca Juga: Gerakan Solidaritas Nasional di GBK Tegaskan Fokus Pada Kepentingan Rakyat

"Sektor pertanian Indonesia sangat membutuhkan sebuah platform digital yang dapat mengintegrasikan berbagai aspek pertanian mulai dari input hingga distribusi output. Platform ini nantinya dapat diakses oleh pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil, sehingga semua pemangku kepentingan dapat berkolaborasi dengan lebih efektif," ujar Prof. Mangku.

Ia menyebutkan, Platform Digital Nasional ini akan menjadi wadah bagi seluruh pelaku usaha pertanian untuk mengakses informasi, mendapatkan pembiayaan, serta memaksimalkan potensi hasil panen dengan teknologi yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Dengan ini, ketimpangan sosial di sektor pertanian yang selama ini masih menghantui petani diharapkan bisa berkurang.

Dalam acara tersebut, Prof. Mangku menggarisbawahi bahwa kesejahteraan petani perlu menjadi prioritas utama, bukan hanya aspek peningkatan produksi. Banyak petani di Indonesia yang masih hidup dalam kemiskinan meskipun mereka berperan sebagai "pilar negara" dalam ketahanan pangan.

Baca Juga: Sinergi Desa untuk Perkuat Ketahanan Pangan Indonesia

Menurut Prof. Mangku, platform ini juga akan mengurangi ketimpangan sosial di sektor pertanian dengan memastikan bahwa informasi, pembiayaan, dan teknologi tepat guna dapat diakses oleh seluruh petani, termasuk yang berada di daerah terpencil. Dengan adanya subsidi yang dialokasikan berdasarkan data digital hasil produksi, diharapkan kesejahteraan petani bisa lebih merata.

Sebagai salah satu langkah strategis menuju kedaulatan pangan, Prof. Mangku mengusulkan agar sektor pertanian Indonesia dipisahkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu tani tradisi, tani korporasi, dan tani negara. Ketiga pendekatan ini diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan yang beragam dalam pertanian Indonesia:

1. Tani Tradisi – Petani yang masih menggunakan metode konvensional ini diarahkan untuk fokus pada fungsi-fungsi tambahan seperti agro-tourism atau ekowisata, sehingga nilai tambah bisa dihasilkan selain dari produk pertanian.

2. Tani Korporasi – Kelompok ini dikelola oleh pihak swasta untuk produksi skala besar dalam ekosistem yang terintegrasi dan berorientasi pada keuntungan. Dengan cara ini, sektor swasta dapat terlibat aktif dalam mendukung produktivitas pangan nasional.

Baca Juga: Prabowo Subianto Hadiri Deklarasi Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) di Indonesia Arena, Dukung Persatuan dan Kesejahteraan Rakyat

3. Tani Negara – Fungsi utama tani negara adalah sebagai cadangan pangan strategis. Dalam kondisi normal, produksi tani negara tidak masuk pasar, namun dapat didistribusikan ketika terjadi krisis pangan guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan.

Prof. Mangku mengusulkan beberapa komponen kunci yang harus ada dalam Platform Digital Nasional agar dapat mendukung kedaulatan pangan, yakni:

1. Sistem Manajemen Pengetahuan – Platform ini harus menyajikan data dan informasi berbasis teknologi yang mudah diakses oleh petani, sehingga mereka dapat memahami dan menerapkan teknologi pertanian yang sesuai dengan lokasi, jenis tanaman, serta kondisi geografis masing-masing.

2. Finansial Teknologi (Fintech) untuk Pertanian – Dengan adanya platform pembiayaan khusus, petani akan memiliki akses yang lebih aman untuk mendapatkan dana tanpa harus bergantung pada utang konsumtif. Pembiayaan yang spesifik untuk kegiatan produksi pertanian ini diharapkan mampu mengurangi beban finansial petani.

3. Sistem Informasi Cuaca dan Kesehatan Lahan – Data cuaca yang akurat dan informasi tentang kondisi lahan dapat membantu petani memilih jenis tanaman yang cocok untuk setiap wilayah. Dengan ini, risiko gagal panen akibat ketidaksesuaian komoditas dengan kondisi lahan bisa dihindari.

4. Sistem Kalender Tanaman – Kalender ini akan mengatur agenda tanam dan panen untuk setiap daerah di Indonesia, memberikan panduan waktu tanam yang optimal serta membantu memperkirakan stok pangan secara nasional.

Baca Juga: Perbedaan Smart TV dan TV Digital dan Mana yang Cocok untuk Kebutuhan Anda?

5. Platform Lelang Komoditas – Adanya lelang digital ini akan membantu petani menetapkan harga yang wajar dan mendapatkan pembeli sejak jauh hari sebelum panen. Sistem ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi petani dalam menjual hasil produksi mereka.

6. Platform Transportasi Digital – Data transportasi yang terintegrasi akan memungkinkan proses distribusi yang lebih efisien. Informasi rute distribusi, pengangkutan, hingga estimasi waktu tiba akan memudahkan logistik pertanian.

7. Data Digital untuk Subsidi – Prof. Mangku juga mengusulkan agar subsidi diberikan langsung berdasarkan data digital panen yang mencatat seluruh kegiatan pertanian. Ini bertujuan untuk memastikan subsidi tepat sasaran dan mengurangi praktik penyalahgunaan subsidi.

Dalam acara ini, Prof. Mangku juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pengembangan Platform Digital Nasional ini. Menurutnya, keberhasilan platform ini akan memperkuat integrasi vertikal dan horizontal di sektor pertanian, memastikan distribusi keuntungan yang adil bagi petani dan pemangku kepentingan lainnya.

Baca Juga: Beda Smart TV dengan TV Digital, Berikut Ulasannya

"Dengan platform ini, kita tidak hanya bicara soal ketahanan pangan, tetapi juga tentang kesejahteraan petani, kemandirian ekonomi, dan ketahanan bangsa. Jika semua aspek dalam sektor pertanian dapat terintegrasi secara digital, maka Indonesia akan semakin kuat menuju kemandirian pangan," tegas Prof. Mangku.

Diskusi daring ini mencerminkan komitmen GPTN dan para ahli untuk mendukung kedaulatan pangan melalui inovasi teknologi. Dengan langkah-langkah nyata seperti pengembangan Platform Digital Nasional, sektor pertanian diharapkan dapat semakin berdaya saing dan membawa kesejahteraan nyata bagi masyarakat.

Acara "Jalan Menuju Indonesia Berdaulat di Bidang Pangan" ini menjadi panggung penting bagi GPTN, akademisi, dan masyarakat untuk bersatu mewujudkan pertanian yang lebih mandiri, sejahtera, dan berdaya saing tinggi, sehingga Indonesia benar-benar dapat berdaulat di bidang pangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.