Kaltim

Tantangan Mata Rantai Pasok Dunia 2024 Diversifikasi Sebagai Kunci Kehadiran Global

Ragil Anggriani | 9 Desember 2023, 10:02 WIB
Tantangan Mata Rantai Pasok Dunia 2024 Diversifikasi Sebagai Kunci Kehadiran Global

Menghadapi tahun 2024, pelaku ekonomi di berbagai negara dihadapkan pada beragam tantangan yang meliputi dinamika kompleks dari mata rantai pasok dunia. Sebuah kajian kolaboratif antara berbagai lembaga internasional telah mengungkap fakta menarik tentang perkembangan mata rantai pasok dunia pada 2022. Meskipun terjadi disrupsi karena perang dagang, pandemi Covid-19, dan konflik di Ukraina, mata rantai pasok dunia ternyata tetap berkembang. Namun, disrupsi ini menyingkap kerawanan terkait konsentrasi dan ketergantungan pada satu negara atau kelompok negara, diperparah oleh ketegangan geopolitik di beberapa wilayah.

Kajian yang bertajuk “GVC Development Report 2023: Resilient and Sustainable GVCs in Turbulent Times” menunjukkan adanya peningkatan share input asing pada aktivitas ekspor berbagai negara pada tahun lalu. Kandungan asing dalam produk yang diekspor suatu negara ke negara lain mengalami peningkatan pada 2022, bersamaan dengan pertumbuhan jumlah negara yang terlibat dalam mata rantai pasok dunia dibanding masa pra-Covid-19.

Namun, disfungsi yang terjadi dalam perdagangan internasional pada 2018 hingga 2020 mengakibatkan peningkatan tahapan mata rantai pasok dunia, yang menyebabkan peningkatan jumlah tahap produksi sebelum produk mencapai konsumen akhir. Masalah ini diperparah oleh nilai ekspor produk bottleneck, yang diekspor oleh segelintir negara, yang mengalami peningkatan dua kali lipat dari 9% menjadi 19% dari total ekspor dunia pada 2000. Dampaknya, mata rantai pasok global menjadi semakin rawan.

Baca Juga: Alarm! Lonjakan Kasus Covid-19 di Indonesia: Diduga Ada Varian Baru yang Picu Penularan Cepat

Kajian ini menekankan bahwa pelaku usaha di negara berkembang dapat meraih manfaat dari mata rantai pasok global dengan meningkatkan produktivitas dan menghilangkan hambatan-hambatan yang ada. Partisipasi yang lebih aktif dalam mata rantai pasok dunia diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan memperbaiki kondisi kerja secara keseluruhan.

Namun, prospek ekonomi pada 2024 diprediksi menghadapi berbagai tantangan. Stagnasi dalam aktivitas ekonomi (stagflation) diproyeksikan terjadi dengan tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia pada 2024 yang cenderung rendah, sekitar 2,7%. Pertumbuhan yang rendah ini disebabkan oleh kebijakan moneter yang ketat yang berdampak pada belanja konsumen, investasi bisnis, pasar tenaga kerja, serta sektor jasa dan manufaktur.

Jurang pertumbuhan PDB antara negara maju dan negara berkembang diperkirakan akan tetap lebar. Meskipun Asia Pasifik diprediksi menjadi pendorong ekonomi dunia, sejumlah tantangan seperti krisis sektor properti di RRT, ketegangan perdagangan, dan menurunnya permintaan dunia dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Jumlah Kasus Positif COVID-19 Melonjak, Dinkes DKI Jakarta Sarankan Pralansia 50+ Melengkapi Vaksinasi 4 Dosis

Selain itu, faktor geopolitik yang tegang di beberapa kawasan juga diantisipasi akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global pada 2024. Tidak hanya perang di Ukraina, namun juga ketegangan di Gaza, Semenanjung Korea, perbatasan India-RRT, dan sejumlah konflik lainnya. Semua ini berpotensi membawa dampak negatif pada perekonomian global.

Tahun 2024 juga menjadi tahun politik bagi sejumlah negara dengan pemilihan umum dan legislatif. Hal ini akan memunculkan tema-tema nasionalis yang dapat berdampak pada kebijakan perdagangan dan investasi, yang pada ekstremnya dapat mengarah pada tindakan larangan ekspor impor dan pembatasan mobilitas pelaku bisnis antarnegara.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, diversifikasi menjadi kunci yang penting. Diversifikasi sumber input, target pasar, dan mitra bisnis di mata rantai pasok dunia menjadi strategi krusial dalam menghadapi gejolak ekonomi global pada tahun mendatang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.