Kaltim

Jeda Kampanye Militer, Trump Ngeyel Perintahkan Serangan ke Iran

Ahmad Munjin | 28 Juli 2026, 11:28 WIB
Jeda Kampanye Militer, Trump Ngeyel Perintahkan Serangan ke Iran
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. ANTARA/Binnur Ege Gürün Koçak - Anadolu Agency

AKURAT KALTIM - Situasi di kawasan Timur Tengah tetap bergejolak di tengah jeda kampanye pengeboman. Itu lantaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih dapat mengeluarkan perintah untuk melakukan serangan terhadap Iran.

RIA Novosti pada Senin (27/7/2026), dengan mengutip The Wall Street Journal dengan mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa Trump menunda rencana untuk meningkatkan secara tajam kampanye militer terhadap Iran karena kekhawatiran bahwa eskalasi dapat menguras persediaan rudal pertahanan udara yang sudah menipis secara berbahaya.

Baca Juga: Trump Belum Putuskan Agresi Militer Lantaran Iran Kian Serius Negosiasi

Pejabat pemerintahan Trump mengatakan bahwa negara-negara Teluk, termasuk Oman dan Qatar, sedang berupaya menghidupkan kembali proses diplomatik, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Minggu.

Sementara itu, Axios melaporkan pada Sabtu, bahwa militer AS masih menyiapkan rencana kontingensi untuk kembali melakukan aksi militer berskala besar terhadap Iran, meskipun Presiden Donald Trump belum mengeluarkan perintah tersebut.

Baca Juga: Balasan kepada AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain

Menurut laporan itu, Trump memerintahkan penghentian serangan lebih lanjut pada Jumat, sekaligus mengakhiri rangkaian serangan berturut-turut selama 13 hari.

Adapun pada malam menjelang 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari. Namun, sejak 8 Juli, pasukan AS telah melancarkan beberapa rangkaian serangan terhadap Iran.

Baca Juga: Drone Iran Serang Dua Pangkalan Militer AS di Kuwait

Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Pasukan Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.

Sedangkan pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga AS menghentikan campur tangannya di kawasan tersebut, setelah kembali terjadi gelombang saling serang antara kedua pihak dalam konflik.

Sehari kemudian, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz. Ia juga kembali memberlakukan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A