Eropa Rundingkan Selat Hormuz dengan Garda Revolusi Iran

AKURAT KALTIM - Terkait jalur pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, perwakilan dari negara-negara Eropa telah memulai negosiasi dengan pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Itu sebagaimana dilaporkan penyiar pemerintah Iran, IRIB, pada Sabtu (17/5/2026).
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga energi.
Baca Juga: Selat Hormuz yang Harus Tetap Terbuka Jadi Kesepakatan Xi dan Trump
Sebelumnya pada Jumat (15/5) Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengakui adanya keberadaan ranjau di Selat Hormuz dan mengatakan hal itu menjadi alasan mengapa kapal-kapal yang ingin melewati Hormuz harus berkoordinasi dengan Teheran.
"Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz jelas harus berkoordinasi dengan militer kami, karena adanya ranjau dan rintangan yang ada. Kami akan membimbing mereka, seperti yang telah kami lakukan dengan sejumlah kapal India. Navigasi yang aman adalah kebijakan kami," kata Araghchi dalam konferensi pers.
Sebanyak 30 kapal dilaporkan telah melintas di Selat Hormuz sejak Rabu malam (13/5) di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Baca Juga: Dalih Amankan Selat Hormuz, Militer AS Luncurkan 'Project Freedom'
Data dari platform pelacakan kapal Marine Traffic menunjukkan sedikitnya empat kapal yang terkait dengan China melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir melalui koridor pelayaran "aman" milik Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling penting di dunia untuk pengiriman minyak dan gas. Selat itu praktis tertutup bagi sebagian besar kapal sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Akibatnya, arus pengiriman sumber energi dan kargo global menjadi terganggu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









