Kaltim

Di BRICS 2026 India, Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah pada Ancaman

Ahmad Munjin | 15 Mei 2026, 10:34 WIB
Di BRICS 2026 India, Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah pada Ancaman
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. ANTARA/Ahmet Serdar Eser/Anadolu

AKURAT KALTIM – Iran menegaskan tidak ada solusi militer untuk masalah yang melibatkan Iran. Negara para mullah itu tidak akan menyerah pada tekanan atau ancaman.

Dalam pertemuan menteri luar negeri (menlu) BRICS 2026 di India, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebutkan Iran telah dua kali menjadi sasaran agresi brutal dan ilegal oleh AS dan Israel dalam waktu kurang dari setahun, menurut laporan Kantor Berita Fars.

BRICS menggelar pertemuan dengan mengusung tema "Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan" di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang dilancarkan sejak 28 Februari lalu dan kini sedang gencatan senjata.

Baca Juga: Selat Hormuz yang Harus Tetap Terbuka Jadi Kesepakatan Xi dan Trump

BRICS diikuti oleh Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab (UEA), Iran, dan Indonesia.

"Sekarang harus jelas bagi semua orang bahwa Iran tidak terkalahkan dan setiap kali berada di bawah tekanan, Iran muncul lebih kuat dan lebih bersatu dari sebelumnya," kata Araghchi.

Dia juga menegaskan Iran siap untuk berjuang dengan kekuatan penuh dalam membela kebebasan, kedaulatan, dan integritas wilayahnya sembari tetap berkomitmen penuh pada diplomasi.

Baca Juga: Balai Besar Rakyat Jadi Saksi Presiden Xi Sambut Donald Trump

"Seperti yang telah berulang kali saya tekankan, tidak ada solusi militer untuk masalah apa pun yang berkaitan dengan Iran. Kami, rakyat Iran, tidak akan menyerah pada tekanan atau ancaman apa pun, tetapi kami akan merespons dengan hormat," ucapnya.

Dia menambahkan angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons kuat dan menghancurkan kepada agresor asing, sambil menekankan bahwa rakyat Iran adalah pencinta damai dan tidak menginginkan perang.

"Dalam situasi yang memalukan ini, kami bukanlah agresor, melainkan pihak yang dirugikan dan haknya dilanggar," ujar Araghchi.

Baca Juga: Trump-Xi Bakal Bertemu di Beijing, AS-China Matangkan Persiapan

Ketegangan regional meningkat tajam setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran yang memicu balasan dari Iran hingga penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April, meskipun negosiasi di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan gencatan senjata akan tetap berlaku tanpa batas waktu, meskipun ketegangan militer dan pembatasan maritim terus berlanjut di wilayah Teluk. AS pun telah mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran sejak 13 April.

Sumber: Anadolu

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A