Tumbuh 14,86 Persen, Usaha Akomodasi Dongkrak Pertumbuhan Kaltim

AKURAT KALTIM - Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum di Kalimantan Timur (Kaltim) tercatat tumbuh 14,86 persen sepanjang semester I 2026. Posisi tersebut mendongkrak pertumbuhan ekonomi provinsi hingga 3,17 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
"Ekonomi Kaltim semester I 2026 dibandingkan dengan semester I 2025 tumbuh sebesar 3,17 persen, didorong oleh meningkatnya kinerja ekonomi di hampir seluruh lapangan usaha, kecuali jasa keuangan dan asuransi yang minus 0,55 persen," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas'ud Rifai di Samarinda, Rabu (5/7/2026).
Terdapat tiga lapangan usaha yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi, yakni penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 14,86 persen, usaha informasi dan komunikasi sebesar 13,24 persen, serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang tumbuh 13,21 persen.
Baca Juga: Kaltim Pelototin Laut dengan Radar AIS
Jika diamati, lanjutnya, tiga lapangan usaha yang memberikan andil positif terbesar adalah perdagangan besar dan eceran hingga reparasi menyumbang 0,86 persen, diikuti industri pengolahan dengan andil 0,53 persen, dan lapangan usaha konstruksi menyumbang 0,28 persen.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi tertinggi selama semester I 2026 terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga hingga sebesar 5,88 persen.
Selain itu, peningkatan kinerja cukup baik juga ditunjukkan oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,01 persen.
Baca Juga: Genjot Ekowisata, Kaltim Maksimalkan Daya Tarik Hiu Paus di Pulau Miang
"Selanjutnya, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB), serta komponen ekspor barang dan jasa tumbuh positif masing-masing sebesar 3,48 persen, 2,86 persen, dan 1,51 persen," katanya.
Secara umum, katanya, produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim berdasarkan harga berlaku pada semester I sebesar Rp475,74 triliun, berasal dari triwulan I sebesar Rp229,07 triliun dan triwulan II Rp246,66 triliun.
Angka ini berasal dari sejumlah lapangan usaha, antara lain pertambangan dan penggalian pada triwulan I Rp76,63 triliun dan triwulan II Rp85,07 triliun, usaha pertanian, kehutanan dan perikanan pada triwulan I Rp21,73 triliun dan triwulan II Rp22,95 triliun.
"Kemudian, lapangan usaha industri pengolahan pada triwulan I dengan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar Rp44,41 triliun dan triwulan II Rp49,57 triliun," ujar Rifai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







