Inovasi Biogas Bikin Peternak Mandiri Energi dan Ekonomi

AKURAT KALTIM - Pemanfaatan inovasi biogas kotoran sapi terbukti ampuh mewujudkan kemandirian energi dan ekonomi bagi masyarakat peternak pada sejumlah daerah di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
"Program konversi limbah ternak ini terbukti memotong ketergantungan warga terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya pengeluaran rumah tangga," kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltim, Bambang Arwanto di Samarinda, Minggu (5/7/2026).
Keberhasilan ini terlihat pada Kelompok Ternak Tirto Sari di Samboja yang mengolah sisa pencernaan makanan sapi menjadi kobaran api biru untuk kebutuhan memasak harian.
Baca Juga: Bank Genjot Pertumbuhan Kredit 9,46 Persen di Kaltim
Sedikitnya 570 unit reaktor biogas skala rumah tangga telah terbangun dan tersebar di desa-desa pada tujuh kabupaten di Kalimantan Timur sejak periode tahun 2011, termasuk Kutai Kartanegara, Kutai Timur hingga Paser.
"Dari tinjauan kami di Kutai Kartanegara dan Paser, masyarakat peternak sapi hanya membutuhkan satu tabung LPG cadangan, karena mayoritas kebutuhan dapur sudah tercukupi dari kotoran sapi di kandang sendiri," ujar Bambang.
Selain itu, lanjutnya, pada proses penguraian kotoran sapi di dalam reaktor turut menghasilkan produk sampingan bernilai ekonomi berupa pupuk organik cair dan padat bagi perkebunan warga.
Baca Juga: Putar Ekonomi Lokal, Kutai Barat Gabungkan Agrowisata dengan KDMP
Menurut Bambang, para peternak yang kreatif kini mulai meraih pendapatan tambahan berkisar Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan dari penjualan hasil pupuk tersebut.
"Kami melihat ada juga potensi pengembangan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) di sekitar lokasi kandang, seperti usaha pengolahan makanan, yang proses produksinya bisa menggunakan energi bersih ini," tuturnya.
Ia mengatakan, pemerintah provinsi pada tahun lalu juga meningkatkan intervensi melalui penyaluran sebelas unit reaktor biogas skala besar berkapasitas 17 meter kubik.
Baca Juga: Program Desa Cantik Penajam Perkuat Pembangunan Berbasis Data
Reaktor besar tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur tetapi juga mampu membangkitkan listrik guna keperluan penerangan lingkungan komunal di pedesaan.
"Dukungan teknologi ini bertujuan menciptakan ekosistem ekonomi sirkular terintegrasi, sehingga limbah peternakan tidak lagi menjadi masalah lingkungan melainkan menjadi aset kesejahteraan," tegas Bambang.
Selain itu, implementasi pupuk hasil biogas terbukti meningkatkan produktivitas tanaman sayur warga tanpa perlu lagi mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli pupuk kimia.
"Keberhasilan di Kutai Kartanegara ini merupakan contoh bagi wilayah lain dalam mewujudkan kedaulatan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masyarakat," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





